Nama: Lailititia Tirena Addara Zahra

NIM : 205100100111029

Fakultas : Fakultas Teknologi Pertanian

Program studi : Ilmu dan Teknologi Pangan

Cluster : 23

Fisik kuat, mental sehat

 

            Dalam konteks Kesehatan, tidak hanya Kesehatan fisik saja yang harus diperhatikan, tetapi juga penting untuk memperhatikan kesehatan mental.  Menurut WHO, Kesehatan adalah kondisi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kecacatan.  Sedangkan kesehatan mental menurut seorang ahli kesehatan Merriam Webster menyatakan bahwa kesehatan mental adalah suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik. Baik disini diartikan sebagai kemampuan dalam memanfaatkan kognisi dan emosi yang dapat berfungsi dalam lingkungan sekitarnya dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kesehatan mental lebih melibatkan pada emosi dan perasaaan seseorang. Walaupun kesehatan fisik dan mental berbeda, mereka tetaplah berkaitan satu sama lain. Baik buruknya kesehatan mental dapat mempengaruhi kesehatan fisik.

            Perlu kalian ketahui gangguan kesehatan mental tidak hanya pada saat sudah ada di tahapan depresi, anxiety, ataupun frustasi. Segala hal besar dimulai dari hal kecil. Kecemasan, ketakutan, trauma, dan kepanikan merupakan hal yang terbilang sederhana, tetapi semua itu juga termasuk gangguan kesehatan mental. Di saat kalian tidak dapat mengontrol emosi, di saat itu juga kalian membutuhkan pertolongan. Obat dari gangguan mental dapat dimulai dengan menyalurkan apa yang dirasakan kepada orang sekitar. Pertolongan itu bisa didapat dengan menghubungi teman, menceritakan pada orang terpercaya, atau mungkin dapat langsung mendatangi psikolog.

            Banyak stigma masyarakat yang masih menganggap bahwa pergi ke psikolog atau psikiater hanya ditujukan pada orang yang memiliki gangguan jiwa atau dianggap orang gila. Cobalah kita ubah stigma negatif itu. Berdasarkan podcast yang saya dengar pagi hari saat saya menulis essay ini, analogikan gangguan kesehatan mental sebagai sakit gigi. Kita akan pergi ke dokter gigi dan menyembuhkan apa yang tidak semestinya. Sama halnya dengan kesehatan mental, jika kita merasa adal hal yang salah dengan pola emosi kita, atau dalam respons sisi kognitif kita, sudah seharunsya kita menyembuhkan dan mengembalikan menjadi yang semestinya. Jika dokter gigi menyembuhkan otak, anggaplah psikolog sebagi penyembuh otak pikiran kita. Dengan penangagan atau  input yang professional maka output-nya pun juga akan maksimal.

            Beberapa masyarakat juga masih menyimpan stigma bahwa gangguan mental menyrang kita karena kurangnya aspek spiritual. Spiritual disini diartikan dengan kedekatan kita dengan tuhan. Masih saja ada yang menyarankan penyembuhan gangguan kesehatan dengan melakukan ibadah. Hal itu tidak sepenuhnya salah, tapi tidak sepenuhnya benar juga. Di saat kita menghadapi sebuah penyakit apapun, hal pertama yang seharusnya kita lakukan adalah melakukan pengobatan secara bentuk saintifik. Semua berawal dari ikhtiar atau usaha untuk menyembuhkan. Setelah itu, barulah diikuti dengan doa dan tawakal. Ingat, tawakal tidak sepenuhnya untuk berserah diri pada sang pencipta. Namun, mengusahakan semaksimal mungkin apa yang dapat dilakukan dan menyerahkan hasilnya pada Sangn Pencipta.

            Menurut Redaksi Halodoc yang tertera dalam website-nya, pencegahan gangguan kesehatan mental dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

  1. Melakukan aktivitas fisik dan tetap aktif secara fisik.
  2. Membantu orang lain dengan tulus.
  3. Memelihara pikiran yang positif.
  4. Memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah.
  5. Mencari bantuan profesional jika diperlukan.
  6. Menjaga hubungan baik dengan orang lain.
  7. Menjaga kecukupan tidur dan istirahat.

            Mari kita mulai hidup sehat, baik secara fisik maupun mental. Pesan kutipan dari podcast yang saya ingat adalah “dalam jiwa sehat ada tubuh yang kuat.”

Komentar